Forum Perlindungan Mangrove Tanjung Prepat (FORMANTAP)

Pengorganisasi masyarakat dan pengembangan Inisiatif Pengelolaan Mangrove berkelanjutan berbasis masyarakat di Pesisir Selatan Kabupaten Berau, Kampung Tanjung Prepat, Kecamatan Biduk-Biduk.

Hasil Kegiatan

  1. Berkembangnya inisiatif pengelolaan mangrove berkelanjutan di Kampung Tanjung Prepat, Kecamatan Biduk-Biduk, Pesisir Selatan Kabupaten Berau.
  2. Terbentuk Lembaga Pengelola Mangrove,  Forum Perlindungan Mangrove Tanjung Perepat (FORMANTAP) Pada tahun 2018 melalui Keputusan Kepala Kampung Tanjung Prepat, Kecamatan Biduk-Biduk Kabupaten Berau, Nomor 13 Tahun 2018 Tentang Pengesahan Organisasi Lokal Kampung Forum Perlindungan Mangrove Tanjung Prepat,
  3. Adanya wilayah Perlindungan dan Pemanfaatan Ekowisata seluas 1.200 ha melalui Keputusan Kepala Kampung Tanjung Prepat, Kecamatan Biduk-Biduk Kabupaten Berau, Nomor 15 Tahun 2019 Tentang Penetapan Kawasan  Lindung dan Ekowisata Kalindakan,
  4. Forum Perlindungan Mangrove Tanjung Perepat (FORMANTAP) telah mendapat pengelolaan mangrove seluas 1.200 ha melalui Keputusan Kepala Kampung Tanjung Prepat, Kecamatan Biduk-Biduk Kabupaten Berau, Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Mangrove di Tanjung Prepat,
  5. FORMANTAP telah berhasil melakukan:
  • Perlindungan dan Mitigasi Mangrove Sejak 2019 hingga saat ini dari gangguan Penebangan Liar dan Pengupasan Kulit Mangrove serta Penangkapan Ikan yang tidak ramah lingkungan (menggunakan Bom dan Racun/Potasium Sianida) melalui patroli hutan secara rutin dan patroli berbasis partisipasi aktif masyarakat dan nelayan disekitar mangrove Kampung Tanjung Prepat dengan keberhasilan hingga 90% ancaman mangrove berkuran dibandingkan sebelum adanya inisiatif pengelolaan mangrove berkelanjutan pada 2018,
  • Sejak 2019 telah melakukan penanaman mangrove sebanyak 350.300 pohon pada lahan terdegradasi seluas 38 ha secara mandiri dan bekerjasama dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Kalimantan Timur (BRGM). Selain itu telah berhasil meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perawatan mangrove yang telah tertanam,
  • Sejak tahun 2019 telah melakukan upaya pengembangan ekonomi ramah lingkungan dengan membuat kerajinan tangan dari limbah kelapa dan kayu. Usaha mereka diberikan nama Chula Craft. Sebagain Keuntungan dari kerajinan tangan tersebut digunakan sebagai biaya pengelolaan mangrove seperti patroli hutan, penanaman, dan mitigasi mangrove serta biaya operasional organisasi FORMANTAP.

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.